Program Studi Teknik Elektro Kampus Terbaik di Lampung, Universitas Teknokrat Indonesia Terbaik PTS ASEAN Hadirkan PLTS untuk Nelayan Tri Tunggal

Inovasi lampu bagan bertenaga surya 200 Wp karya mahasiswa UTI mampu menekan biaya operasional nelayan, sekaligus mendukung SDG 4 Quality Education, sustainability, dan program Green Campus.

Baca Juga : Universitas Teknokrat Indonesia Gelar Buka Puasa Bersama dan Peringatan Nuzulul Qur’an 1447 H, Ulama Ingatkan Pentingnya Literasi Keagamaan di Era Digital

Bandar Lampung – Program Studi Teknik Elektro Universitas Teknokrat Indonesia (UTI), Kampus Terbaik di Lampung sekaligus Universitas Teknokrat Indonesia Terbaik PTS ASEAN, kembali menunjukkan kontribusi nyata dalam menghadirkan inovasi teknologi tepat guna bagi masyarakat. Kali ini, inovasi diwujudkan melalui penerapan sistem penerangan bagan nelayan berbasis Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Desa Rangai Tri Tunggal, Kecamatan Katibung, Kabupaten Lampung Selatan.

Program inovasi tersebut menjadi solusi alternatif bagi nelayan dalam menghadapi tingginya biaya operasional akibat penggunaan generator diesel (genset) untuk penerangan bagan saat melaut. Sistem PLTS berkapasitas 200 Wp kini dimanfaatkan oleh kelompok nelayan Mang Mamat yang beranggotakan 14 orang.

Pada sore hari menjelang malam, nelayan Desa Tri Tunggal tampak bersiap menuju laut. Sejumlah bagan apung mulai menyalakan lampu sorot sebagai alat bantu untuk menarik ikan. Namun berbeda dengan bagan lain yang masih mengandalkan genset berbahan bakar pertalite, salah satu bagan tampak menyala tanpa suara mesin diesel. Penerangan tersebut berasal dari sistem PLTS yang dipasang oleh mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia.

PLTS 200 Wp Kurangi Beban Biaya Bahan Bakar Nelayan

Mang Mamat, ketua kelompok nelayan pengguna PLTS, menyampaikan bahwa bantuan teknologi tenaga surya dari mahasiswa UTI sangat membantu aktivitas melaut, terutama dalam menghemat biaya bahan bakar.

“Cukup membantu, terutama mengurangi biaya pembelian bahan bakar pertalite untuk genset,” ujar Mang Mamat saat diwawancarai, Kamis (16/10/2025).

Ia menjelaskan bahwa sebelumnya penggunaan genset membutuhkan pengeluaran sekitar Rp150.000 per malam hanya untuk bahan bakar. Namun setelah menggunakan sistem tenaga surya, biaya tersebut dapat ditekan secara signifikan.

Di perairan Rangai Tri Tunggal Katibung, terdapat sekitar 150 bagan apung yang sebagian besar masih mengandalkan genset. Meski demikian, beberapa nelayan mulai beralih menggunakan energi baru terbarukan berbasis tenaga surya, termasuk untuk kebutuhan motor jaring kepiting.

“Motor jaring kepiting lebih cocok menggunakan PLTS dibandingkan genset,” tambahnya.

Mang Mamat menyebutkan, meski tenaga surya sangat membantu, nelayan tetap membutuhkan genset sebagai cadangan ketika cuaca mendung sepanjang hari sehingga daya listrik yang tersimpan tidak mencukupi.

Edukasi dan Pendampingan Mahasiswa Jadi Kunci Keberhasilan

Pada tahap awal, tidak semua nelayan langsung percaya dan menerima penggunaan panel surya sebagai sumber energi. Mereka masih ragu apakah PLTS mampu menggantikan genset yang selama ini menjadi andalan.

Namun, Novriansyah, mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia, dengan sabar memberikan edukasi kepada masyarakat nelayan mengenai manfaat energi baru terbarukan. Ia menjelaskan bahwa tenaga surya dapat digunakan untuk menyalakan lampu penerangan bagan sekaligus mendukung perangkat elektronik seperti radar kapal.

Setelah mendapatkan pemahaman, nelayan pun bersedia mencoba. Novriansyah bersama dosen pembimbing kemudian melakukan proses perakitan hingga pemasangan sistem panel surya secara langsung di lapangan.

Hingga kini, sistem PLTS tersebut masih digunakan secara aktif oleh kelompok nelayan Mang Mamat sebagai solusi energi alternatif yang lebih hemat dan ramah lingkungan.

Nelayan Harapkan Kapasitas Panel Surya Ditingkatkan

Melihat manfaat besar yang dirasakan, nelayan berharap kapasitas panel surya dapat diperbesar agar mampu menyalakan lebih banyak lampu. Saat ini, kapasitas PLTS yang digunakan masih terbatas dan hanya mampu menghidupkan sekitar empat lampu penerangan.

Dalam kegiatan melaut, lampu bagan memiliki peran penting untuk menarik ikan pelagis seperti teri, cumi-cumi, layur, sotong, dan ikan embung. Bagan apung biasanya melakukan penangkapan ikan dua hingga tiga kali dalam semalam.

Mang Mamat menambahkan bahwa hasil tangkapan sangat bergantung pada cuaca. Saat kondisi laut baik, pendapatan kelompok nelayan bisa mencapai Rp2–3 juta per malam, namun saat cuaca buruk hasil tangkapan dapat turun hingga sekitar Rp1 juta. Bahkan pada kondisi ekstrem, nelayan tidak dapat melaut selama beberapa hari.

Ketika ditanya tentang strategi agar hasil tangkapan tetap meningkat, Mang Mamat menjawab dengan sederhana namun penuh makna.

“Kami hanya bergotong royong, bersemangat, dan selalu berdoa sebelum berangkat,” katanya.

Prodi Teknik Elektro UTI Dorong Energi Terbarukan untuk Nelayan

Secara terpisah, Kepala Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Teknokrat Indonesia, Elka Pranita, S.Pd., M.T., menyampaikan rasa bangga atas karya inovatif mahasiswa yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat pesisir.

Ia menyebutkan bahwa pemasangan sistem PLTS tersebut dilakukan pada 3 Juli 2025 sebagai upaya menjawab keterbatasan akses listrik sekaligus menekan biaya operasional nelayan.

“Alhamdulillah, hasilnya sangat positif. Pengeluaran nelayan untuk membeli bensin genset bisa berkurang hingga puluhan ribu rupiah setiap malam,” jelas Elka.

Menurutnya, panel surya merupakan energi alternatif ramah lingkungan yang dapat digunakan untuk penerangan bagan serta mendukung perangkat elektronik nelayan seperti lampu dan radar.

Elka menegaskan bahwa inovasi Novriansyah yang dituangkan dalam skripsinya menjadi bukti bahwa mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia mampu menghadirkan solusi teknologi yang aplikatif dan berdampak langsung.

“Kami berharap inovasi ini dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus berkreasi dan berkontribusi dalam pengembangan energi bersih yang berkelanjutan,” ungkapnya.

Dukungan terhadap SDG 4: Quality Education (Pendidikan Berkualitas)

Program ini menjadi implementasi nyata dukungan Universitas Teknokrat Indonesia terhadap SDG 4 (Quality Education) melalui pembelajaran berbasis praktik dan pengalaman lapangan. Mahasiswa tidak hanya belajar teori di ruang kelas, tetapi juga mengaplikasikan ilmu teknik elektro untuk menyelesaikan permasalahan riil masyarakat nelayan.

Kegiatan ini memperkuat kompetensi mahasiswa dalam bidang energi terbarukan, sistem kelistrikan, dan desain teknologi tepat guna. Selain itu, mahasiswa juga memperoleh pengalaman sosial melalui edukasi dan pendampingan langsung kepada masyarakat.

Model pembelajaran seperti ini membuktikan bahwa Universitas Teknokrat Indonesia terus menghadirkan pendidikan yang relevan, inovatif, dan berdampak luas.

Selaras dengan Komitmen Green Campus Universitas Teknokrat Indonesia

Sebagai Kampus Terbaik di Lampung dan Universitas Teknokrat Indonesia Terbaik PTS ASEAN, UTI terus memperkuat komitmennya dalam mewujudkan konsep Green Campus melalui program inovasi energi bersih yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Penerapan PLTS di wilayah pesisir ini menjadi bukti bahwa Universitas Teknokrat Indonesia tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga berkomitmen menjadi kampus yang peduli lingkungan, mendukung energi terbarukan, serta menjadi pelopor solusi hijau berbasis teknologi.