Mengangkat tema literasi keagamaan di era digital, kegiatan ini menghadirkan ulama dan akademisi untuk mengajak masyarakat memperkuat pemahaman Al-Qur’an serta bijak menyaring informasi di media sosial.

Bandar Lampung – Dalam rangka memperingati malam Nuzululquran 1447 Hijriah, Masjid Asmaul Yusuf Universitas Teknokrat Indonesia yang dikenal sebagai salah satu kampus terbaik di Lampung menggelar tabligh akbar pada Kamis malam, 6 Maret 2026. Kegiatan keagamaan tersebut dihadiri oleh pimpinan universitas, dosen, mahasiswa, serta masyarakat sekitar kampus yang turut memadati area masjid untuk mengikuti rangkaian acara penuh hikmah tersebut.

Baca Juga: Universitas Teknokrat Indonesia Kampus Terbaik di Lampung Salurkan Zakat Mal ke Panti Asuhan Bussaina

Tabligh akbar ini menghadirkan Dr. Mahmudin Bunyamin, Lc., M.A. sebagai penceramah utama. Dalam tausiahnya, ia mengangkat tema pentingnya literasi keagamaan di tengah derasnya arus informasi digital, khususnya pada era media sosial yang semakin memengaruhi cara masyarakat memperoleh pengetahuan agama.

Dalam ceramahnya, Mahmudin menegaskan bahwa bulan Ramadan dikenal sebagai Syahrul Quran, yaitu bulan yang dimuliakan dengan turunnya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan interaksi dengan Al-Qur’an, tidak hanya melalui membaca, tetapi juga dengan memahami serta mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

“Ramadan adalah momentum terbaik untuk kembali mendekatkan diri dengan Al-Qur’an, bukan hanya dengan membacanya, tetapi juga memahami dan mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Mahmudin di hadapan jamaah yang hadir.

Waspada Fenomena “Fatwa Instan” di Media Sosial

Dalam kesempatan tersebut, Mahmudin juga menyoroti fenomena yang kian marak di era digital, yakni munculnya “fatwa instan” di media sosial. Ia mengingatkan masyarakat agar lebih kritis dan selektif dalam menerima informasi keagamaan yang beredar secara luas di berbagai platform digital.

Menurutnya, tidak semua pihak yang menyampaikan ceramah atau pendapat keagamaan di media sosial memiliki latar belakang keilmuan yang memadai. Oleh karena itu, umat Islam perlu berhati-hati agar tidak terjebak pada pemahaman agama yang keliru.

Ia mencontohkan bahwa di sejumlah negara Arab, terdapat standar ketat terkait siapa saja yang diperbolehkan memberikan fatwa atau nasihat keagamaan kepada masyarakat.

“Hanya mereka yang benar-benar memiliki kompetensi keilmuan sebagai ulama yang diperkenankan memberikan nasihat agama dan fatwa kepada masyarakat,” tegasnya.

Mahmudin juga mengingatkan kembali pandangan Khalifah Umar bin Khattab yang pernah mengungkapkan kekhawatiran bahwa kerusakan dalam Islam bisa saja muncul dari internal umat sendiri apabila ajaran agama disampaikan tanpa landasan ilmu yang kuat atau dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu.

Pentingnya Belajar Agama dari Guru yang Kompeten

Lebih lanjut, Mahmudin menekankan pentingnya belajar agama dari guru yang memiliki sanad keilmuan yang jelas dan terpercaya. Ia mengimbau masyarakat agar tidak hanya mengandalkan potongan video pendek dari platform digital seperti YouTube, TikTok, maupun media sosial lainnya sebagai sumber utama pemahaman agama.

Menurutnya, pemahaman agama memerlukan proses pembelajaran yang utuh, mendalam, dan berkesinambungan.

“Pemahaman agama tidak bisa diperoleh hanya dari potongan video singkat. Kita perlu belajar secara utuh dari guru yang memiliki keilmuan yang sahih agar pemahaman kita tidak sepotong-sepotong,” jelasnya.

Rektor Ajak Generasi Muda Bijak Menyerap Informasi

Sementara itu, Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. HM Nasrullah Yusuf, S.E., M.B.A., yang turut hadir dalam kegiatan tersebut mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa yang didominasi Generasi Z, untuk memanfaatkan momentum Nuzululquran sebagai sarana memperkuat karakter serta meningkatkan kebijaksanaan dalam menyerap informasi.

Menurutnya, di tengah perkembangan teknologi dan media digital yang sangat cepat, generasi muda perlu memiliki kemampuan literasi yang baik, termasuk literasi keagamaan, agar mampu memilah informasi yang benar dan bermanfaat.

“Kita ingin mahasiswa tidak hanya unggul dalam bidang teknologi dan akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat serta kemampuan menyaring informasi secara bijak,” ungkap Nasrullah Yusuf.

Mendukung Komitmen Kampus terhadap SDGs

Penyelenggaraan tabligh akbar ini juga sejalan dengan komitmen Universitas Teknokrat Indonesia dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya pada aspek pendidikan berkualitas dan penguatan nilai-nilai sosial di masyarakat.

Kegiatan ini berkontribusi pada SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penyebaran edukasi keagamaan yang bersumber dari ulama dan akademisi yang kompeten sehingga dapat meningkatkan literasi dan kualitas pemahaman masyarakat terhadap ajaran agama.

Selain itu, kegiatan ini juga mendukung SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Kuat) dengan menekankan pentingnya moderasi beragama serta kemampuan menyaring informasi agar tidak mudah terprovokasi oleh konten yang berpotensi menimbulkan konflik atau perpecahan.

Melalui kegiatan keagamaan seperti tabligh akbar ini, Universitas Teknokrat Indonesia terus berupaya membangun lingkungan akademik yang tidak hanya unggul dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga kuat dalam nilai-nilai spiritual, moderasi beragama, serta kebijaksanaan dalam menghadapi dinamika era digital.