Dosen dan Mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia Raih Penghargaan Paten dari Kemenkum RI atas Inovasi Komposter Cerdas

Bandar Lampung – Prestasi membanggakan kembali diraih sivitas akademika Universitas Teknokrat Indonesia. Seorang dosen bersama tim mahasiswa berhasil meraih Penghargaan Paten dari Kementerian Hukum Republik Indonesia (Kemenkum RI) atas invensi teknologi tepat guna yang berfokus pada pengelolaan limbah peternakan secara ramah lingkungan.

Baca juga : Mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia Kampus Terbaik di Lampung, Ciptakan Inovasi AgroBot Feed, Robot Cerdas Pemberi Pakan Ternak Sapi Otomatis

Penghargaan tersebut diberikan kepada Dr. Sc. Dedi Darwis, S.Kom., M.Kom., yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer (FTIK), bersama tim mahasiswa inovator. Penyerahan penghargaan dilakukan langsung oleh Kepala Kantor Wilayah Kemenkum Provinsi Lampung dalam sebuah seremoni resmi yang berlangsung di Hotel Horison Lampung pada Selasa, 25 Februari 2026.

Penghargaan paten ini menjadi bukti nyata kontribusi perguruan tinggi dalam menghasilkan inovasi teknologi yang tidak hanya memiliki nilai kebaruan, tetapi juga memberikan manfaat praktis bagi masyarakat serta berpotensi diterapkan secara luas.

Inovasi Komposter Cerdas untuk Mengatasi Limbah Peternakan

Paten yang diterima tim peneliti diberikan atas invensi berjudul “Alat Komposter Cerdas untuk Pengolahan Kotoran Sapi dengan Pemantauan Suhu, Kelembaban, dan Gas Amoniak Terintegrasi.”

Teknologi ini dikembangkan sebagai solusi atas permasalahan limbah peternakan yang selama ini sering menimbulkan pencemaran lingkungan, bau tidak sedap, hingga emisi gas berbahaya di sekitar area peternakan.

Melalui sistem sensor digital yang terintegrasi, alat komposter tersebut mampu memantau suhu, kelembaban, serta kadar gas amonia secara real-time selama proses pengomposan berlangsung. Pemantauan berbasis data ini memungkinkan proses fermentasi berjalan lebih optimal sehingga menghasilkan pupuk organik berkualitas tinggi dengan proses yang lebih aman dan terkontrol.

Inventor utama, Dr. Dedi Darwis, menjelaskan bahwa inovasi ini lahir dari kebutuhan nyata di lapangan, khususnya di sektor peternakan sapi yang masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan limbah.

“Permasalahan limbah kotoran sapi sering berdampak pada lingkungan dan kesehatan masyarakat. Kami mencoba menghadirkan solusi teknologi yang sederhana, terjangkau, berbasis data, namun efektif untuk membantu para peternak mengelola limbah secara lebih profesional,” ujarnya.

Dengan sistem pemantauan yang terintegrasi, proses pengomposan dapat dikendalikan secara lebih presisi sehingga risiko kegagalan fermentasi dapat diminimalkan sekaligus mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan sekitar.

Kolaborasi Riset Dosen dan Mahasiswa

Keberhasilan memperoleh paten ini tidak terlepas dari kolaborasi erat antara dosen dan mahasiswa dalam kegiatan penelitian. Selain Dr. Dedi Darwis, tim inventor juga melibatkan mahasiswa berbakat yaitu Izudin Ismail, Deka Ramadani, Reza Isa Mahendra, dan Fadhurohman Penateh Mergo.

Para mahasiswa tersebut berperan aktif dalam berbagai tahapan pengembangan teknologi, mulai dari perancangan sistem, pengembangan perangkat keras dan perangkat lunak, hingga proses pengujian alat di lapangan.

Keterlibatan mahasiswa dalam proyek penelitian ini merupakan implementasi nyata dari pendekatan pembelajaran berbasis riset (research-based learning) yang terus dikembangkan oleh Universitas Teknokrat Indonesia.

Salah satu mahasiswa anggota tim inventor mengaku bangga dapat terlibat langsung dalam riset hingga menghasilkan karya yang diakui secara nasional.

“Kami sangat bersyukur dapat terlibat langsung dalam proses penelitian hingga memperoleh paten. Pengalaman ini membuka wawasan kami tentang pentingnya inovasi yang benar-benar memberikan dampak bagi masyarakat,” ungkapnya.

Diakui di Ajang Ilmiah Nasional

Sebelum memperoleh pengakuan paten dari Kemenkum RI, inovasi Komposter Cerdas ini juga telah mendapat perhatian di berbagai forum ilmiah nasional. Teknologi tersebut pernah dipamerkan dalam Expo Konvensi Sains dan Teknologi Indonesia (KSTI) yang diselenggarakan di Institut Teknologi Bandung.

Forum ilmiah tersebut dihadiri oleh akademisi, peneliti, pelaku industri, hingga pemangku kebijakan nasional, sehingga menjadi ajang strategis untuk memperkenalkan inovasi teknologi hasil riset perguruan tinggi.

Tidak hanya itu, inovasi ini juga berhasil meraih Juara Nasional pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Pertanian Indonesia (PIMPI) 2025 yang digelar di IPB University. Capaian tersebut semakin memperkuat kualitas ilmiah serta manfaat praktis teknologi yang dikembangkan oleh tim peneliti.

Apresiasi dari Kemenkum RI dan Pimpinan Universitas

Dalam sambutannya, Kepala Kantor Wilayah Kemenkum Provinsi Lampung menegaskan bahwa paten bukan sekadar bentuk perlindungan hukum terhadap karya intelektual, tetapi juga merupakan bentuk penghargaan negara atas kontribusi inovasi bagi pembangunan nasional.

“Paten adalah bentuk penghargaan negara terhadap karya yang memiliki nilai kebaruan dan manfaat luas. Kami mendorong perguruan tinggi untuk terus menghasilkan invensi yang dapat dilindungi dan dihilirisasi,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. HM Nasrullah Yusuf, menyampaikan apresiasi atas capaian dosen dan mahasiswa yang dinilai mampu memperkuat reputasi kampus dalam bidang riset dan inovasi.

“Penghargaan paten ini membuktikan bahwa Universitas Teknokrat Indonesia tidak hanya unggul dalam pendidikan, tetapi juga dalam riset dan pengembangan teknologi yang berdampak langsung bagi masyarakat. Kami akan terus mendukung lahirnya inovasi-inovasi baru menuju Indonesia Emas,” tegasnya.

Mendorong Hilirisasi Teknologi dan Dampak Berkelanjutan

Dengan diperolehnya paten tersebut, Universitas Teknokrat Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat ekosistem riset dan inovasi nasional, termasuk mendorong hilirisasi teknologi hasil penelitian perguruan tinggi agar dapat dimanfaatkan secara nyata oleh masyarakat.

Ke depan, tim inventor berencana menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah, kelompok peternak, serta mitra industri untuk mengimplementasikan teknologi Komposter Cerdas di berbagai sentra peternakan sapi di Indonesia.

Langkah ini diharapkan mampu memberikan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai pusat solusi atas berbagai persoalan pembangunan bangsa.

Mendukung Pendidikan Berkualitas dan Green Campus

Pengembangan Komposter Cerdas juga menjadi contoh nyata implementasi pendidikan berbasis riset yang sejalan dengan agenda SDG 4 (Quality Education). Mahasiswa tidak hanya memperoleh teori di ruang kelas, tetapi juga dilibatkan secara langsung dalam proses penelitian hingga menghasilkan inovasi yang diakui secara nasional.

Selain itu, teknologi ini juga mendukung konsep Green Campus dengan mendorong pengelolaan limbah yang lebih ramah lingkungan. Limbah kotoran sapi yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan kini dapat diolah menjadi pupuk organik bernilai ekonomis.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa inovasi teknologi tidak hanya berorientasi pada kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Dengan capaian ini, Universitas Teknokrat Indonesia semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu perguruan tinggi yang konsisten melahirkan inovasi unggulan serta berkontribusi nyata dalam pembangunan nasional melalui sains dan teknologi.