Dosen dan Mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia Implementasikan StegoIoT untuk Mendukung Peternakan Sapi Modern

Inovasi berbasis Internet of Things, kecerdasan buatan, otomatisasi, dan keamanan data dihadirkan untuk meningkatkan efisiensi serta pengelolaan peternakan berbasis data

Bandar Lampung – Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong hilirisasi hasil riset agar tidak berhenti di lingkungan akademik, tetapi dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat maupun dunia industri.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui implementasi StegoIoT, sebuah ekosistem teknologi pengelolaan kandang sapi modern berbasis Internet of Things (IoT) dan steganografi teks, yang dikembangkan oleh tim dosen dan mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia bersama mitra industri PT Sanjaya Farm.

Baca juga :

MEMBANGGAKAN !! Empat Dosen Universitas Teknokrat Indonesia Raih Insentif Video Pembelajaran Berbasis Riset, Peraih Terbanyak Kedua Nasional

Implementasi StegoIoT merupakan bagian dari Program Hilirisasi Riset Prioritas skema SINERGI Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) tahun 2026.

Penelitian bertajuk “StegoIoT: Aplikasi Pengelolaan Kandang Sapi Modern Berbasis IoT dan Steganografi Teks” tersebut telah berlangsung sejak 5 Mei 2026. Tahapan penelitian mencakup survei kondisi kandang, perancangan sistem, perakitan perangkat, pengembangan aplikasi, pengujian laboratorium, hingga pengujian lapangan.

Puncak implementasi dilakukan secara langsung di kandang PT Sanjaya Farm pada Rabu, 23 September 2026, sebagai langkah konkret membawa hasil penelitian dari lingkungan laboratorium menuju pemanfaatan langsung di sektor industri.

Menjawab Kebutuhan Peternakan melalui Transformasi Digital

StegoIoT dikembangkan sebagai ekosistem teknologi yang mengintegrasikan berbagai perangkat dan aplikasi untuk membantu pengelolaan peternakan sapi secara lebih terukur, efisien, dan berbasis data.

Teknologi ini dirancang untuk menjawab berbagai kebutuhan dalam pengelolaan peternakan sapi potong, mulai dari pencatatan data ternak, pemberian pakan, pemantauan kesehatan hewan, pengolahan limbah, perhitungan biaya produksi, hingga perlindungan terhadap data usaha.

Ketua Peneliti StegoIoT, Dr.Sc. Dedi Darwis, S.Kom., M.Kom., menjelaskan bahwa transformasi digital pada sektor peternakan perlu dilakukan secara menyeluruh dengan memperhatikan kebutuhan nyata yang dihadapi peternak.

“Peternakan sapi kita masih banyak bergantung pada pencatatan manual, mulai dari bobot, pakan, kesehatan, sampai biaya. StegoIoT kami rancang agar seluruh proses itu tercatat otomatis dan terintegrasi. Data penting peternak juga terlindungi dengan enkripsi dan steganografi sehingga lebih aman dari risiko kebocoran,” ujar Dedi.

Menurutnya, integrasi tersebut memungkinkan data yang sebelumnya tersebar dalam berbagai catatan manual maupun perangkat pribadi dapat dikelola secara lebih sistematis dalam satu ekosistem digital.

Kolaborasi Multidisiplin untuk Menghasilkan Solusi yang Aplikatif

Pengembangan StegoIoT melibatkan kolaborasi lintas disiplin yang mempertemukan dosen, mahasiswa, perguruan tinggi, dan mitra industri.

Penelitian dipimpin oleh Dr.Sc. Dedi Darwis, S.Kom., M.Kom., bersama tim dosen yang terdiri atas Dr. Sampurna Dadi Riskiono, M.Eng., Dr. Heni Sulistiani, S.Kom., M.Kom., dan Styawati, S.Kom., M.Cs.

Tim juga berkolaborasi dengan Susanti, S.Pt., M.Si., dosen Peternakan Politeknik Negeri Lampung. Kolaborasi tersebut mempertemukan kompetensi teknologi informasi dengan pengetahuan dan kebutuhan praktis di bidang peternakan.

Dari sisi teknologi, penelitian mengintegrasikan keahlian Internet of Things, perangkat keras, rekayasa aplikasi, kecerdasan buatan, dan keamanan data. Sementara dari aspek peternakan, pengembangan sistem mempertimbangkan kebutuhan terkait kesehatan ternak, manajemen pakan, pengolahan limbah, serta pengelolaan usaha peternakan.

Pendekatan multidisiplin tersebut memungkinkan teknologi yang dikembangkan tidak hanya berorientasi pada kecanggihan teknis, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan pengguna dan kondisi nyata di lapangan.

Libatkan Mahasiswa dalam Proses Riset hingga Implementasi

Salah satu aspek penting dalam penelitian StegoIoT adalah keterlibatan mahasiswa secara langsung dalam proses pengembangan dan implementasi teknologi.

Sebanyak tujuh mahasiswa Program Studi S1 Teknik Komputer Universitas Teknokrat Indonesia, yaitu Alya Zahra Faradilla, Agun Kusuma, Argya Juang Ramadhan, Dhavi Novrizal, Trian Fadila, Radja Reno Simamora, dan Nyoman Randy Gunawan, terlibat dalam penelitian tersebut.

Selama kurang lebih lima bulan, mahasiswa mengikuti berbagai tahapan, mulai dari perakitan dan pemrograman perangkat, pengembangan aplikasi berbasis web, hingga pengujian sistem secara langsung di kandang mitra bersama petugas lapangan.

Keterlibatan tersebut memberikan pengalaman pembelajaran berbasis proyek yang memungkinkan mahasiswa menerapkan ilmu yang diperoleh di perkuliahan untuk menyelesaikan persoalan nyata di dunia industri.

Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman teknis, tetapi juga memahami proses bagaimana sebuah hasil riset dirancang, diuji, diterapkan, dievaluasi, dan disesuaikan dengan kebutuhan pengguna.

Delapan Produk Inovasi Terintegrasi dalam StegoIoT

StegoIoT dikembangkan melalui delapan produk inovasi yang saling terhubung untuk mendukung pengelolaan peternakan dari proses hulu hingga hilir.

1. RFID dan Timbangan Digital

Perangkat ini digunakan untuk mengidentifikasi sekaligus melakukan penimbangan sapi secara digital. Sistem dilengkapi tongkat pembaca RFID portabel RISTA yang dapat menampilkan identitas, riwayat bobot, serta kondisi sapi secara langsung di area kandang.

2. Agrobot Feed

Agrobot Feed merupakan gerobak pengangkut pakan otonom yang dirancang untuk membantu distribusi pakan. Perangkat ini dapat melakukan penimbangan pakan, bergerak mengikuti rute yang telah ditentukan, serta berhenti secara otomatis ketika mendeteksi adanya hambatan.

3. Digital Smart Collar

Digital Smart Collar merupakan perangkat berbentuk kalung elektronik yang digunakan untuk memantau kondisi sapi secara real-time. Sistem memonitor sejumlah parameter, seperti suhu tubuh, detak jantung, dan aktivitas ternak, sehingga dapat membantu memberikan informasi awal mengenai kondisi kesehatan sapi.

4. Digital Smart Composter

Digital Smart Composter dikembangkan untuk mengolah kotoran sapi menjadi kompos. Perangkat ini dapat memantau sejumlah parameter, termasuk suhu, kelembapan, pH, dan kadar amonia, serta memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membantu memprediksi tingkat kematangan kompos.

5. Mesin Pencacah Pupuk Berbasis IoT

Mesin pencacah digunakan untuk menghaluskan kotoran sapi sebelum diproses lebih lanjut menjadi pupuk. Kondisi dan pengoperasian mesin dapat dipantau melalui dashboard daring sehingga proses pengolahan lebih mudah dikendalikan.

6. Aplikasi Harga Pokok Penjualan Sapi

Aplikasi Harga Pokok Penjualan (HPP) Sapi membantu peternak menghitung biaya produksi dan menentukan harga jual setiap ekor sapi berdasarkan perhitungan yang lebih terukur.

7. Aplikasi Penjualan Sapi

Aplikasi penjualan berfungsi sebagai etalase digital yang memungkinkan calon pembeli memperoleh informasi mengenai sapi, melakukan pemesanan, serta melakukan konsultasi sebelum transaksi.

8. Aplikasi Steganografi Teks

Aspek keamanan informasi menjadi salah satu bagian penting dalam StegoIoT. Aplikasi steganografi teks dikembangkan untuk menyembunyikan data sensitif ke dalam teks biasa dengan memanfaatkan karakter tak terlihat atau Zero Width Space.

Teknologi tersebut memberikan lapisan perlindungan tambahan terhadap data penting sehingga informasi yang bersifat sensitif tidak mudah dikenali oleh pihak yang tidak memiliki hak akses.

Hasil Pengujian Menunjukkan Performa Sistem

Sebelum diterapkan di lingkungan mitra industri, seluruh produk StegoIoT telah melalui serangkaian pengujian laboratorium dan lapangan.

Hasil pengujian menunjukkan Agrobot Feed memiliki akurasi penimbangan pakan sebesar 99,45 persen, tingkat keberhasilan navigasi 93,33 persen, serta kemampuan deteksi hambatan mencapai 100 persen.

Sementara itu, Digital Smart Collar menunjukkan tingkat kesalahan sebesar 1,27 persen pada pengukuran suhu tubuh dan 2,47 persen pada pengukuran detak jantung jika dibandingkan dengan perangkat yang digunakan dokter hewan.

Pada Digital Smart Composter, sensor yang digunakan menunjukkan tingkat akurasi antara 97,9 persen hingga 99,8 persen. Sementara itu, mesin pencacah mampu mengolah lebih dari 100 kilogram kotoran sapi per jam.

Tiga aplikasi yang dikembangkan juga telah melewati skenario pengujian. Pada sistem steganografi, pengujian berhasil mengembalikan 3.000 dari 3.000 pesan uji tanpa kehilangan data.

Hasil pengujian tersebut menjadi salah satu dasar bagi tim peneliti untuk melanjutkan implementasi sekaligus melakukan penyempurnaan berdasarkan kondisi penggunaan di lapangan.

Keamanan Data Menjadi Bagian Integral dalam Ekosistem StegoIoT

Selain menghadirkan otomatisasi, StegoIoT memberikan perhatian terhadap aspek keamanan informasi.

Setiap perangkat dirancang memiliki kunci keamanan yang unik dan mengirimkan data dalam bentuk terenkripsi. Pada sisi server, data sensitif memperoleh perlindungan tambahan melalui teknologi steganografi dengan menyembunyikan informasi ke dalam teks yang secara kasatmata terlihat seperti teks biasa.

Pendekatan tersebut menjadi bagian penting karena data peternakan dapat mencakup informasi sensitif, seperti harga pembelian, biaya pemeliharaan, margin keuntungan, hingga data pelanggan.

Dengan demikian, StegoIoT menggabungkan sejumlah teknologi dalam satu ekosistem, meliputi digitalisasi, Internet of Things, kecerdasan buatan, otomatisasi, serta keamanan data.

Telah Diperkenalkan pada ILDEX Indonesia 2026

Sebelum diimplementasikan di PT Sanjaya Farm, inovasi StegoIoT terlebih dahulu diperkenalkan kepada publik dan pelaku industri melalui ajang International Livestock, Dairy, Meat Processing and Aquaculture Exposition (ILDEX) Indonesia 2026.

Pameran tersebut berlangsung pada 16–18 September 2026 di ICE BSD, Tangerang.

Keikutsertaan dalam ajang tersebut menjadi kesempatan bagi tim peneliti Universitas Teknokrat Indonesia untuk memperkenalkan inovasi kepada pelaku industri peternakan sekaligus membuka peluang kolaborasi dan penerapan teknologi.

Implementasi di PT Sanjaya Farm kemudian menjadi tahapan lanjutan dalam membawa inovasi dari ruang laboratorium dan pameran menuju pemanfaatan langsung di lingkungan industri.

Rektor UTI: Riset Harus Memberikan Manfaat Nyata

Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. H.M. Nasrullah Yusuf, S.E., M.B.A., memberikan apresiasi terhadap kerja keras dosen dan mahasiswa dalam mengembangkan StegoIoT.

Menurutnya, implementasi hasil penelitian di lingkungan industri menunjukkan bahwa riset perguruan tinggi dapat diarahkan untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat dan dunia usaha.

“Kami bangga dengan kerja keras dosen dan mahasiswa Teknokrat. Riset ini tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar diterapkan dan memberi manfaat bagi dunia industri peternakan. Inilah wujud nyata hilirisasi riset yang terus kami dorong di Teknokrat,” ungkap Nasrullah.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara dosen, mahasiswa, perguruan tinggi, dan mitra industri untuk menghasilkan inovasi yang memiliki peluang penerapan lebih luas.

Wakil Rektor Mahathir Muhammad Apresiasi Keterlibatan Mahasiswa

Wakil Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. H. Mahathir Muhammad, S.E., M.M., turut memberikan dukungan terhadap implementasi StegoIoT yang melibatkan dosen dan mahasiswa secara langsung.

Menurut Mahathir, keberhasilan sebuah riset tidak hanya dapat dilihat dari produk teknologi yang dihasilkan, tetapi juga dari proses pembelajaran yang diperoleh mahasiswa selama mengikuti penelitian.

“Kami mengapresiasi kerja keras tim dosen dan mahasiswa dalam mengembangkan StegoIoT hingga dapat diimplementasikan langsung di PT Sanjaya Farm. Ini menunjukkan bahwa hilirisasi riset bukan hanya menghasilkan produk teknologi, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami kebutuhan industri dan mengembangkan solusi yang aplikatif,” ujar Mahathir.

Ia menilai pengembangan teknologi seperti IoT, kecerdasan buatan, dan keamanan data memiliki keterkaitan yang semakin kuat dengan kebutuhan industri di tengah perkembangan transformasi digital.

“Kami berharap StegoIoT terus disempurnakan dan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi sektor peternakan. Universitas Teknokrat Indonesia akan terus mendorong riset yang menghasilkan inovasi, melibatkan mahasiswa secara aktif, serta memiliki peluang untuk diterapkan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan dunia industri,” tambahnya.

Tahap Selanjutnya: Uji Multi-Unit dan Penguatan Teknologi

Setelah implementasi awal di PT Sanjaya Farm, tim peneliti akan melanjutkan pengembangan melalui uji lapangan multi-unit serta penyempurnaan perangkat berdasarkan hasil penggunaan di lingkungan peternakan.

Tim juga akan memberikan pelatihan kepada operator kandang agar teknologi yang telah dikembangkan dapat digunakan secara optimal dalam kegiatan operasional sehari-hari.

Selain aspek teknis, tim peneliti juga terus memperkuat perlindungan kekayaan intelektual terhadap berbagai inovasi yang dihasilkan.

Tahapan lanjutan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesiapan teknologi sebelum dikembangkan dan diterapkan dalam skala yang lebih luas.

Mendorong Peternakan Modern, Efisien, dan Berbasis Data

Pengembangan StegoIoT menjadi salah satu contoh hilirisasi riset perguruan tinggi yang diarahkan untuk menjawab persoalan konkret di sektor industri.

Integrasi IoT, kecerdasan buatan, otomatisasi, aplikasi digital, dan keamanan data membuka peluang bagi pengelolaan peternakan yang lebih terukur serta berbasis informasi dan data.

Ke depan, tim peneliti berharap StegoIoT dapat direplikasi di peternakan lainnya, khususnya di wilayah Lampung dan Sumatera. Pengembangan serta pengujian secara berkelanjutan diharapkan dapat mendukung terbentuknya sistem peternakan sapi yang modern, efisien, aman, dan berdaya saing.

StegoIoT Mendukung Pencapaian Sustainable Development Goals

Implementasi StegoIoT juga memiliki keterkaitan dengan sejumlah agenda Sustainable Development Goals (SDGs).

Dari aspek pendidikan, keterlibatan dosen dan mahasiswa dalam penelitian serta implementasi teknologi secara langsung mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas. Mahasiswa memperoleh pengalaman pembelajaran berbasis riset sekaligus kesempatan mengembangkan kemampuan teknis, kolaborasi, dan pemecahan masalah melalui persoalan nyata di dunia industri.

Pada aspek inovasi dan infrastruktur, pengembangan StegoIoT relevan dengan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui penerapan IoT, otomatisasi, kecerdasan buatan, serta teknologi keamanan data dalam sektor peternakan.

Sementara itu, peningkatan efisiensi pengelolaan peternakan dan pengembangan kompetensi sumber daya manusia di bidang teknologi memiliki keterkaitan dengan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, khususnya dalam mendukung produktivitas dan kesiapan sumber daya manusia menghadapi kebutuhan industri yang semakin terdigitalisasi.

Pengolahan kotoran sapi menjadi kompos melalui Digital Smart Composter juga sejalan dengan semangat SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, melalui pemanfaatan kembali limbah peternakan dan pengelolaan sumber daya secara lebih berkelanjutan.

Selain itu, kolaborasi antara Universitas Teknokrat Indonesia, Politeknik Negeri Lampung, PT Sanjaya Farm, serta berbagai pihak dalam ekosistem industri mencerminkan semangat SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Dengan demikian, StegoIoT tidak hanya menjadi inovasi teknologi di bidang peternakan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menghubungkan pendidikan, penelitian, industri, inovasi, keberlanjutan, dan kemitraan dalam satu ekosistem yang saling mendukung.

Dari Riset untuk Industri, dari Kampus untuk Masyarakat

Melalui implementasi StegoIoT, Universitas Teknokrat Indonesia kembali menegaskan arah pengembangan riset yang tidak berhenti pada publikasi maupun pengujian di laboratorium.

Hasil penelitian diarahkan untuk melalui tahapan pengembangan, pengujian, implementasi, dan evaluasi sehingga dapat menjawab kebutuhan pengguna secara nyata.

Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, perguruan tinggi, dan mitra industri sekaligus memperkuat ekosistem inovasi yang menghubungkan pendidikan tinggi dengan kebutuhan dunia usaha.

StegoIoT diharapkan dapat terus dikembangkan dan diperluas pemanfaatannya sehingga memberikan kontribusi bagi transformasi digital sektor peternakan, sekaligus menjadi contoh bahwa riset perguruan tinggi dapat menghasilkan inovasi yang aplikatif, berkelanjutan, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat serta dunia industri.